Pare PART 2 (The people)
Good morning! Afternoon! Night! Last time I wrote
about Pare, I told you that I will use English for the next one, and I think
it’s not a good idea. Yesterday I came to my Grammar for writing class, the
tutor told me, what would be going in this class, he says that this class is
just discuss about grammar that used for writing, He says like it’s very simple, and in the end of class, all student must translate Bahasa into English, and what did happened is, there is
no one who can translate the 10 sentences correctly. I just got 1 point.
Jadi, untuk sesi ini mungkin saya hanya akan
menggabungkan bahasa dan inggris, supaya bacanya enak (ngeles lu di)
Hari-hari pun berlalu dengan begitu cepat, mungkin
saya telalu menikmatinya dan merasa rugi apabila 1 minggu berasa sangat cepat,
disini saya benar benar berada di lingkungan yang sangat baik. Sudah banyak
sekali pesan moral yang saya dapatkan dalam perjalanan saya kali ini di pare.
Dan saya sangat menyadari betapa kecilnya saya saat saya masih berada di tempat
yang sama terus menerus. disini saya menemukan banyak sekali orang yang sudah
mempunyai pengalaman hidup dengan berbagai macam karakter.
Saya punya kebiasaan untuk menilai orang dari pertemuan pertama, melihat orang dari sisi luar, dan menebak seperti apa orang tersebut. Quotes ‘don’t judge a book by its cover’ adalah hal yang harus diterapkan jika kamu suka untuk membaca sifat atau kebiasaan orang. Contohnya jika kita lihat seseorang dari segi berpakaian, bisa saja orang yang berpakaian kumuh adalah orang yang sangat berwibawa, dan orang yang berpakaian dengan sangat rapih, malah justru memiliki kehidupan yang biasa saja. Saya merupakan orang yang suka berada di kerumunan orang yang memiliki sifat berbeda-beda. seperti berada di kerumunan orang-orang yang suka kecanduan dengan minuman keras, rokok, narkotika, preman, penggerutu, atau apapun lah, karen mereka akan dengan senang hati menceritakan pengalamannya dari berbagai macam hal dengan suka rela, bisa jadi saya tahu bagaimana menjadi seseorang yang suka minuman keras, tanpa harus merasakannya.
Saya punya kebiasaan untuk menilai orang dari pertemuan pertama, melihat orang dari sisi luar, dan menebak seperti apa orang tersebut. Quotes ‘don’t judge a book by its cover’ adalah hal yang harus diterapkan jika kamu suka untuk membaca sifat atau kebiasaan orang. Contohnya jika kita lihat seseorang dari segi berpakaian, bisa saja orang yang berpakaian kumuh adalah orang yang sangat berwibawa, dan orang yang berpakaian dengan sangat rapih, malah justru memiliki kehidupan yang biasa saja. Saya merupakan orang yang suka berada di kerumunan orang yang memiliki sifat berbeda-beda. seperti berada di kerumunan orang-orang yang suka kecanduan dengan minuman keras, rokok, narkotika, preman, penggerutu, atau apapun lah, karen mereka akan dengan senang hati menceritakan pengalamannya dari berbagai macam hal dengan suka rela, bisa jadi saya tahu bagaimana menjadi seseorang yang suka minuman keras, tanpa harus merasakannya.
The best word, that can describe people in pare is
‚random‘. There is so many people here, who came from the other area, like
Sumatra, Lampung, Surabaya, Malang, even Ternate, Lombok, and much more. So if
you want to get some experiences from others about life, English learning,
especially about Indonesian, Pare is the good place to choose. I’ve just stay
here for 6 days and I’ve got so many friend and that is the important thing to have. mengapa demikian? karena disini kita
hidup benar-benar secara terbuka, tidak ada privasi, privasi yang bisa
dilakukan hanyalah sesuatu yang kita lakukan di gadget kita, tapi selebihnya
jika anda ingin mempunyai waktu luang sendiri untuk melakukan privasi apapun
yang anda ingin lakukan, itu sulit. Bayangkan saja, satu kamar kos atau asrama
akan diisi oleh 3-4 orang, segala hal yang ingin kalian lakukan di kamar
sendiri harus di sharing kepada teman sekamar. Walaupun demikian, ikatan
persaudaraan akan semakin kuat, hari per hari, karena tanpa diminta pun mereka
akan dengan senang hati membantu segala permasalahan yang kita temui di sini,
misalnya ketika sulit bangun pagi untuk masuk kelas pagi, atau bahkan ketika
kehilangan sesuatu, sehingga apapun yang terjadi, kita akan selalu merasa
nyaman.
Di hari ke 4 saya kehilangan payung, saat itu sedang hujan dan saya memakai payung untuk pergi ke mushola dekat asrama, selepas selesai shalat saya pun langsung kembali ke asrama, karena ingin melanjutkan tugas atau PR. Ketika sampai di asrama, banyak orang berlalu lalang di dalam asrama, ada yang saya kenal, dan ada juga yang tidak, saat sampai di asrama, seseorang bertubuh besar langsung datang kepada saya dan mengatakan untuk meminjam payung, saya pikir dia adalah orang dalam asrama dan hanya meminjam untuk pergi ke mushola juga, tanpa pikir panjang saya langsung saja memberi payung saya dan ternyata orang itu bukan orang dalam, dan payung saya pun tidak kembali.
Di hari ke 4 saya kehilangan payung, saat itu sedang hujan dan saya memakai payung untuk pergi ke mushola dekat asrama, selepas selesai shalat saya pun langsung kembali ke asrama, karena ingin melanjutkan tugas atau PR. Ketika sampai di asrama, banyak orang berlalu lalang di dalam asrama, ada yang saya kenal, dan ada juga yang tidak, saat sampai di asrama, seseorang bertubuh besar langsung datang kepada saya dan mengatakan untuk meminjam payung, saya pikir dia adalah orang dalam asrama dan hanya meminjam untuk pergi ke mushola juga, tanpa pikir panjang saya langsung saja memberi payung saya dan ternyata orang itu bukan orang dalam, dan payung saya pun tidak kembali.
Mr Y told me, I must stop to lend to someone.
When I asked why, he just quiet and didn’t say anything again, just with a
little voice. And I realized that there was still so many people outside our
room, so maybe he just want me to get carefully. It is kind a sad that my umbrella
lost, because it is always raining in the afternoon until night, and the day
after that, our fan (we borrow it from our friend in other room) was lost too,
we didn’t know where it is, maybe someone has took it after we went to the
class although we have locked our room. So it is not quiet safe here, we just hope that no one from us lost something again. But a lot of
people say that in Pare is really safe. There is no thief or robber, I always
put my phone and my precious thing in the basket of my bicycle, and I always forgot
to take it when I was going to class, after 5 minutes I back to my bicycle
and the phone was still there, I did this maybe 3-4 times. And I never heard
about people who lost their phone or some gadget. So maybe it is really safe
here, but still we must careful about anything that will happen.
Kembali ke topik utama, part ini saya mau
menceritakan sedikit pandangan saya tentang orang-orang local dan juga para
siswa yang belajar di sini. Orang local disini tidak berbahasa inggris, mereka
cenderung menggunakan aksen mereka sendiri, Kediri style. Dengan medok yang
sangat khas di setiap kata-katanya, disini sangat sulit membedakan mana orang local
dan mana siswa, karena kebanyak siswa disini adalah orang jawa yang memiliki
ciri khas yang sama, bahkan tak sedikit warga local yang ikut belajar di kelas.
Sedangkan para siswa yang belajar disini rata-rata mahasiswa yang sedang
liburan panjang dan sengaja untuk mengambil kelas inggris untuk sekedar
menghabiskan masa liburannya, beberapa juga sudah pada lulus, dan tujuannya untuk
datang ke sini adalah untuk persiapan untuk mengambil sertifikat kebahasaan,
baik TOEFL atau IELTS, beberapa juga ada yang bekerja, di beberapa institute menyediakan
pelajaran tentang Job Interview, yang mana isinya pelatihan interview dengan
menggunakan bahasa inggris dan juga berisi latihan-latihan soal psikotest.
Kelompok yang paling sedikit adalah orang yang sudah berusia 30-40 tahun, seperti Mr. X yang belajar grammar for writing bersama saya, ia sudah bekerja dan mengambil cuti dan datang kesini karena kemampuan bahasa inggris sedang dibutuhkan di kantornya, dan ada juga ibu rumah tangga yang menjadi salah satu inspirasi saya, karena ibu ini dengan gigihnya berlatih bahasa inggris dengan sangat rajin dan tekat yang tinggi, ia ingin pergi ke Kanada dan bekerja disana sebagai ‘goods driver’, beliau mengatakan bahwa beberapa temannya menyarankan untuk bekerja disana selama dua tahun dan setelah dua tahun ia dapat membawa anak dan suaminya pergi ke Kanada, padahal dari segi ekonomi, beliau sudah bisa dikatakan berkecukupan, namun dengan tekatnya yang tinggi ia pergi meninggalkan anak dan suaminya untuk belajar disini selama 1-2 bulan. “tidak ada waktu terlambat, selagi kita masih hidup, kita harus menggali terus mimpi-mimpi kita, sayang apabila otak kita tidak dipakai karena mungkin sudah merasa berkecukupan dalam segala hal, padahal otak kita mampu menerima segala informasi yang kita rasakan, hal ini juga sebenarnya bagus untuk menunda penuaan dini” kata beliau.
Kelompok yang paling sedikit adalah orang yang sudah berusia 30-40 tahun, seperti Mr. X yang belajar grammar for writing bersama saya, ia sudah bekerja dan mengambil cuti dan datang kesini karena kemampuan bahasa inggris sedang dibutuhkan di kantornya, dan ada juga ibu rumah tangga yang menjadi salah satu inspirasi saya, karena ibu ini dengan gigihnya berlatih bahasa inggris dengan sangat rajin dan tekat yang tinggi, ia ingin pergi ke Kanada dan bekerja disana sebagai ‘goods driver’, beliau mengatakan bahwa beberapa temannya menyarankan untuk bekerja disana selama dua tahun dan setelah dua tahun ia dapat membawa anak dan suaminya pergi ke Kanada, padahal dari segi ekonomi, beliau sudah bisa dikatakan berkecukupan, namun dengan tekatnya yang tinggi ia pergi meninggalkan anak dan suaminya untuk belajar disini selama 1-2 bulan. “tidak ada waktu terlambat, selagi kita masih hidup, kita harus menggali terus mimpi-mimpi kita, sayang apabila otak kita tidak dipakai karena mungkin sudah merasa berkecukupan dalam segala hal, padahal otak kita mampu menerima segala informasi yang kita rasakan, hal ini juga sebenarnya bagus untuk menunda penuaan dini” kata beliau.
Begitu pula dengan Mr. R yang satu asrama dengan
saya, ia sudah bekerja mungkin selama 3-4 tahun di salah satu bengkel atau
perusahaan, dan sekarang ia meninggalkan itu semua dan belajar disini karena
ingin berkuliah, padahal umurnya sama dengan saya. “toh, belajar itu ga ada
abisnya, kenapa harus takut untuk belajar?” padahal awalnya saya berpikir dia
datang memang untuk mengambil job interview seperti layaknya orang lain yang
seumuran saya dan hanya memikirkan tentang kerja-kerja dan kerja. Tetapi
ternyata kelas yang diambil adalah bahasa inggris dasar, dia sudah sekitar 2
bulan di sini dan berencana selama satu tahun. tak ada ketakutan sama sekali
ketika ia menjelaskan itu semua, maksud saya: sudah berusia yang harusnya sudah
memikirkan penghasilan, mencari kerja atau semacamnya, tapi dia dengan
tenangnya merencanakan berkuliah yang akan memakan waktu selama 4 tahun
kemudian dan berencana disini selama satu tahun, jadi kalau saya hitung mungkin
umurnya akan sekitar 30-31 tahun ketika lulus S1. Dengan gagah dan tegasnya ia
mengatakan “it is not too late, right? we can still learn”.
Yaa, memang tidak telat sih, ia pun mengatakan semua kehidupan kan sudah ada yang ngatur, hanya tinggal bagaimana kita menjalaninya, susah senang, kita sendiri yang menentukan. Bahkan pada saat kita sedang sedih, situasi kelam, apa yang akan kita rasakan semua kembali pada diri kita masing-masing. “Just say grateful to Allah, and we will get more grace” say Mr Grateful. I call him Mr. Grateful because he always say that. I’ve got a lot of knowledge from him, like ‘keep on basic’ everything we do, just keep on basic. For example, when we go with a car, we cannot just go without start the machine, push the clutch, move the cog and push the gas. We cannot go just pushing the gas right? It is same like living in this world, everything we do, do not take the instant one, but we must do step by step until we reach what we want. If we talk about time. Every process need time, and time is very expensive. If we want get time with compatible price, we must be patient and istiqamah!
Yaa, memang tidak telat sih, ia pun mengatakan semua kehidupan kan sudah ada yang ngatur, hanya tinggal bagaimana kita menjalaninya, susah senang, kita sendiri yang menentukan. Bahkan pada saat kita sedang sedih, situasi kelam, apa yang akan kita rasakan semua kembali pada diri kita masing-masing. “Just say grateful to Allah, and we will get more grace” say Mr Grateful. I call him Mr. Grateful because he always say that. I’ve got a lot of knowledge from him, like ‘keep on basic’ everything we do, just keep on basic. For example, when we go with a car, we cannot just go without start the machine, push the clutch, move the cog and push the gas. We cannot go just pushing the gas right? It is same like living in this world, everything we do, do not take the instant one, but we must do step by step until we reach what we want. If we talk about time. Every process need time, and time is very expensive. If we want get time with compatible price, we must be patient and istiqamah!
Masih banyak lagi sebenarnya tujuan-tujuan orang
untuk datang kesini, saya malah jadi malu dengan diri sendiri karena datang
kesini hanya untuk mengisi waktu luang, namun sedikit demi sedikit saya
menemukan sesuatu yang saya cari, bercermin dari yang sebelumnya, saya yang
selalu menetap di bandung dalam jangka waktu yang panjang, ternyata perjalanan
seperti ini memang sangat membantu.
So, remember:
Don’t judge a book by its cover. You can judge if
you have known the truth.
Time is very expensive, because of that, we must be
patient and use the time useful
Learning is not something that we have before we
finish our studies. But learning is always there until we died. So don’t stop
learing! it is just up to you, what do you want to learn. search it and be
master of it.


Komentar
Posting Komentar