Life on Journey : PARE (Kampung Inggris) Part I

WELCOME

Hai Chroner, beberapa bulan lalu saya menjanjikan membuat artikel tentang Environment Change. Tapi berhubung keberadaan saya sedang berada di Pare. Kampung Inggris Kediri, saya mau sedikit menceritakan pengalaman saya berada disini, semoga para Chroner suka, dan ikut sharing tentang pengalaman yang sama disini.

Akhir bulan lalu (Januari 2016) saya menghabiskan masa kontrak mengajar. Atas saran dari seluruh orang yang sayang sama saya, jalan apa yang harus dilakukan setelah itu pun banyak sekali. Beberapa saran tersebut:

„Adi, kamu jangan keluar, sebelum mendapatkan yang baru“
„Kamu boleh keluar, tapi minimal kamu sudah punya pegangan, walaupun pegangan itu masih calon“
„kamu udah harus keluar, melihat dunia luar, cari jati diri kamu sendiri dan pergunakan dengan sebaik mungkin tabungan yang sekarang kamu sudah kumpulkan“
„Alhamdulillah, kamu mau keluar,  jadi bisa jalan-jalan sama ibu“
„Coba kamu cari kesibukan baru, atau minimal balik lagi ke hobby km yang sudah lam ditinggalkan karena kesibukan kamu mengajar“

Dan masih banyak lagi. Entah apa yang terpikirkan oleh saya, semua ucapan-ucapan itu seperti menghantui, layaknya sebuah peringatan bahwa didepan adalah jurang yang sangat besar, dalam arti, apakah saya takut untuk keluar dari pekerjaan ini, dan harus mencari yang baru atau apakah saya harus benar-benar merasakan jurang tersebut untuk mengetahui sedalam apa jurang itu, dan apa yang menanti saya di akhir jurang itu.

Pilihan saya untuk keluar disebabkan oleh serbuan ucapan yang kujadikan sebuah tantangan. Tantangan untuk mencari yang lebih baik, tantangan untuk kenal dunia luar, tantangan untuk berpikir out of box, atau bahasa keren jaman ini. Keluar dari zona nyaman. Comfort Zone. Selama ini, sayalah yang mengajarkan prinsip tersebut kepada murid-murid saya yang nantinya akan pergi ke Jerman untuk melanjutkan pendidikan. Tapi sekarang saya sendiri juga yang sangat membutuhkan hal tersebut. You know what? we must have a lot of courage to make this happen. bukan sesuatu yang direncanakan, tapi sebuah spontanitas yang harus dilalui yang intinya kita harus berani berbuat kesalahan dalam segi apapun. Tidak selalu melakukan yang benar dan diam karena sudah merasa benar, tapi teruslah mencari kesalahan-kesalahan yang dapat membuat diri kita menjadi lebih benar.

So, what should I do now? pertanyaan yang terlintas dalam benak saya. Yes. karena saya pun masih bukan seorang yang bisa menentukan hal sendiri. My Best Friend planned everything, what i must do after my job end. Tapi, yaa namanya juga manusia, tidak ada kepuasan dalam menentukan sesuatu. Pilihan pun banyak sekali, saya sih tenang saja, karena tinggal melakukan dan terapkan. Tapi she decide a lot of thing. “kamu harus keluar dari bandung. Cari komunitas sosial yang sedang aktif, dan kamu terjun membantu dengan biaya sendiri.“ Ya, ide yang bagus, saya pun sangat menyukai untuk bisa berbaur dengan masyarakat secara umum. Tapi kemana? „Just wait, and i will search some comunity for you, and you decide, what kind of comunity that you want to take.” Tapi setelah beberapa hari berlalu tidak ada kabar darinya, hingga saya bertemu dengan teman lama, dan ia menceritakan suku Baduy. Disana banyak sekali komunitas-komunitas sosial yang membantu suku baduy, dan disana ada suku baduy dalam dan suku baduy luar, yang menarik adalah saat kita masuk ke suku baduy dalam kita tidak boleh membawa barang elektronik apapun, jika kita melanggar, akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Akhirnya saya menetapkan untuk pergi kesana, namun rencana hanya sebuah rencana. Perjalanan suku Badut harus di-cancel, selain tidak punya kontak siapapun yang bisa dihubungi disana, ketertarikan saya pun berkurang. Saya ingin mencari kerja kembali.

Beberapa hari kemudian, ada ucapan tak sadar keluar dari mulut. “apa aku pergi ke Pare aja ya“ dan itu terdengar oleh my Best Friend. Dan seketika itu pula, ia langsung mencarikan segala kebutuhan saya untuk pergi ke Pare. Padahal ini hanya sebuah kalimat yang terucap begitu saja tanpa maksud untuk merealisasikannya. Namun entah kenapa, bahasa tubuhku menyetujui ide itu, saya memesan tiket kereta online tanpa bayar terlebih dahulu, hingga akhirnya dibayarkan oleh temanku (tapi tetep aja saya harus bayar, huhu). Pare adalah kampung Inggris, dimana lembaga kursus bahasa Inggris berjamuran dimana mana. Tidak ada niat sama sekali untuk melatih bahasa Inggris, apalagi kursus, namun apa salahnya juga mencari kesibukan bagus seperti ini? Sambil menyelam minum air. Mendapat kesibukan setelah kerja, keluar dari rumah (comfort zone), lingkungan baru yang akan membuatku menjadi ‘baru’. H-2 sebelum keberangkatan saya masih berpikir keras, apakah jadi berangkat atau tidak, belum packing sama sekali. Mencoba mencari kesibukan lain, dan ternyata belum ada kesibukan lain yang datang, oke fine. I’ll go. Packing untuk keperluan sebulan dilakukan pada hari H, beberapa jam sebelum keberangkatan.

Hari minggu 7 Februari 2016, pukul 20.00. Akhirnya saya pergi bersama Wina dan temannya Linda di stastiun Kiaracondong dengan kereta Kahuripan. Kami duduk bersebelahan di kereta economi AC ini. Perjalanan yang ditempuh dengan kurun waktu 12 jam ini kita lewati dengan suka cita (berikut ga bisa tidur dan sakit nyut-nyutan diseluruh tubuh hmm). Saya yakin ekspetasi kita tentang Pare ini berbeda-beda. Kampung inggris yang saya duga adalah kampung dimana semua orang yang tinggal disana sudah memakai bahasa internasional. Tempat dimana saya harus memakai bahasa Inggris setiap hari, tempatnya bagus karena memiliki label kata ‘inggris’ tanpa memperhatikan kata depannya. Udaranya jernih dan pemukimannya sedikit, jauh dari mana-mana, penuh dengan hijaunya alam, dan banyak lagi ekspetasi tentang kempung inggris (emang dasarnya aja orang kota yang jarang pergi ke kampung, ngarepnya lebih aja, ingin ini, ingin itu, tapi saya engga begitu loh ya, saya mah orangnya acceptable for every situation hahaha)

Saya dan Wina yang sudah pernah searching about pare di intenet, sebenarnya sudah diingatkan oleh pihak dari internetnya atau dalam hal ini agen pare sudah memberitahu walapun tidak secara gamblang, gambaran-gambaran yang akan dihadapi di pare. Seperti halnya “kos-kosan sejenis kamar sederhana dengan ukuran tidak begitu besar, dan Kasur yang ditempati oleh 3-4 orang.” Oke itu adalah penjelasan yang paling aman, mungkin para pembacanya mengira bahwa, minimal banyak kosan, dan bisa ditempati oleh banyak orang dengan biaya murah sekitar 150-300/ bulan, dan lupa dengan peringatan kata ‘sederhana’ dalam penjelasan itu. Sedangkan Linda, ia belum pernah cek di internet tentang pare, ia hanya mengatakan bahwa ia penasaran dengan kursus yang diadakan di pare. Dalam hal ini, yang beruntung adalah Linda. Memang sebaiknya kita tidak terfokus dengan lingkungan apa yang akan kita tempati tapi tujuan yang memang akan dicapai. Salah besar bahwa kita mengira banyak hal yang akan didapat di lingkungan baru. Just aim your purpose and stick with it!

So, jadi Chroner pada penasaran apa yang sebenarnya saya dapatkan di kota ini kan? hahaha (so iye banget, padahal mah ga ngasih tau juga gapapa kali yak, haha). Tepat saya menulis part ini, adalah hari kedua saya di pare. Hari pertama kami tiba pagi hari sekitar pukul 09.00 lalu tanpa persiapan kami tidak tahu menggunakan apa untuk pergi ke pare, pada awalnya kami mengira dengan menggunakan becak sudah cukup, tapi karena cuaca dan kondisi tubuh yang sudah sangat cape (maklum di kereta 12 jam ga tidur coy) tanpa bisa berpikir jernih akhirnya kami memutuskan untuk naik mobil sebesar 50rb/org, is that expensive? yes! its too expensive. Setelah kita sampai, seseorang dari lembaga mengatakan sebenarnya perjalanan dari stasiun ke pare hanya membayar sekitar 20/30rb/org, dua kali lipatnya kan? Tapi alasan kenapa kita mau menggunakan mobil dengan harga sekian, harga penjemputan dari stasion ke kediri yang tertera di agen internet sekitar 70rb/org. Coyy coyy, Informasi dan sesuatu yang instan itu memang mahal harganya cooy.

Sekali lagi saya jelaskan, kami bertiga menuju pare tanpa menggunakan agen apapun, karena pada awalnya kami langsung kontak dengan pihak salah satu lembaga, dan mereka mengatakan bahwa memang bisa untuk daftar langsung ke lembaga H-1 sebelum quartal, sedangkan dalam internet tertera dengan jelas bahwa pendaftaran minimal 3 hari sebelum quartal dimulai. Sebenarnya kami sudah mempersiapkan dari jauh-jauh hari, tapi kami memang sengaja untuk tidak menggunakan agen untuk menghindari sesuatu hal yang tidak diinginkan (harga kursus lebih mahal, pemilihan kosan yang tidak sesuai, harga kosan yang tidak sesuai), dari awal kami memang ingin mencari semua sendiri. Awalnya sesuai dengan rencana, setelah sampai, kami menyimpan tas di lembaga kursus lalu pergi untuk mencari kos-kosan. Dibantu oleh temannya teman SMA saya, bernama Kiki, kita dipandu untuk mencari kos-kosan terdekat dan termurah. Daerah yang kita cari itu lumayan mahal harganya, karena tempatnya dekat sekali dengan perkotaan, tapi karena lembaga yang kita pilih letaknya memang dekat dengan perkotaan, mau tidak mau harus membayar extra. Dengan kondisi yang lemah, pikiran yang tidak jernih kami hanya mengikuti arahan dari kiki, berharap dia dapat menunjukkan pilihan-pilihan yang terbaik. Mungkin memang kami yang sedang apes, kosan yang kami datangi semua penuh, khususnya untuk Wina dan Linda, sulit sekali mencari kosan yang cocok dengan mereka. Terlalu banyak orang sekamar, tidak ada kipas angin. Sebenarnya di lembaga yang kami pilih sudah menyediakan camp, kelebihan camp yang sebenarnya kami tidak mau adalah penambahan kursus di pagi hari tepatnya waktu subuh, dan dimalam hari setelah maghrib. How can people spent all time just for learning??? Ow meen, its too heavy just think about it, and guess what guys? YES!! WE TAKE IT! TAKE ENGLISH COURSE WITH CAMP!

Untuk para Chroner yang memang khusus melatih bahasa inggris kalian disini, pilihan yang sangat tepat untuk mengambil kursus dengan camp, karena sepanjang hari dalam sebulan yang kalian lakukan hanyalah belajar bahasa Inggris, dan baru 2 hari saya disini, saya pun yakin bahwa keterampilan kita dalam berbahasa inggris akan meningkat pesat. Tapi bagi Chroner yang hanya sekedar penasaran dan hanya ingin mencobanya, bukan pilihan yang tepat untuk mengambil camp, sehingga Chroner bisa bebas bangun kapan saja, dan pergi sampai semalam apapun, karena di camp, there is a rule. Oke, we’ll see what will happen for this 2 weeks. Will it good or well or bad. Just do it.

Sekarang suasana kampung Parenya, keadaanya sangat diluar ekspetasi, apa yang saya harapkan berbeda sekitar 50% lah, 50% lagi karena prinsip saya mampu menerima keberagam tanpa alasan. Ini seperti kampung yang ke kota-kotaan, sepertinya apa yang tersedia di kota, sudah tersedia disini. ATM berjamuran, tempat makan dari warteg sampai cafĂ©, harga murah sampai harga mahal, baju, perhiasan, alat elektronik seperti HP Pulsa Charger MP3 Anti gores , barang-barang yang terjual di Ace Hardware, lengkap guys, bahkan took LAZAda juga ada. Kurang lengkap apa lahi coba haha. Cuaca disini beda-beda perjam, Panas sekitar pukul 9-12, hujan sekitar 13-18, malam dingin dan seterusnya seperti itu, Panas terik dikarenakan sinar matahari, jika kita berada di dalam ruangan seharian maka tidak akan terasa hawa panasnya. Jika hujan tidak datang, salah seorang perempuan mengatakan, disini sambil wudhu buat shalat sekalian buat mandi saking panasnya. Makanan dapat nilai setara dengan warteg-warteg biasa, tidak ada inovasi, hampir semua warung makanan menunya sama. Harga juga masih dihitung sama, mungkin hanya berbeda 2000-3000 bila dibandingkan dengan kota. Sangat murah apabila Chroner memang ingin memanjakan keuangan anda, mungkin satu hari hanya menghabiskan uang 15000 rupiah untuk tiga kali makan. Tapi bagi Chroner yang lebih mementinkan kuantitas dan kualitas harganya bisa sekitar 7000-10000 hanya untuk sekali makan. Logikanya sama seperti halnya kita sedang berkuliah dan harus mengatur keuangan supaya dapat makan setiap hari. Jadi bisa dibayangkan, pengeluaran disini dan dikota sama saja, bedanya disini di kampung yang siapapun sudah terbiasa dengan menghemat dalam segi apapun, makanya dibilang murah, jika mau disamakan dengan kota, tak ada perbedaan yang mencolok. Bagaimana dengan Kosan? Jika Chroner mengatakan bahwa kosan disini murah, salah besar, harganya sama dengan kota, disini terkesan murah karena hanya membayar 150rb/bulan/orang, dan 1 kamar harus diisi minimal 3-4 orang, mayoritas 4 orang, jadi jika dijumlahkan 150rb x 4 org, 1 kamar sebulan harganya 600rb, sama seperti harga kosan untuk para mahasiswa, ya kan? Seperti apa yang dikatakan oleh Yusuf, roomate saya selama dua minggu ke depan. „Disini, kosan semewah apapun tetap aja labelnya kan Kampung, ya jangan harap lebih. Orang-orang disini boleh kampung, tapi kalau soal fulus, otaknya sama aja seperti orang kota, cari untung sebanyak-banyaknya“
Menarik, apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi 2 minggu kedepan ini, di lembaga ini, dan dari pernyataan yusuf, semua terlihat lebih menarik, dengan penampilan biasa-biasa saja, tapi sudah bisa berpikir secara baik dalam hal keuangan, mengapa hal itu hanya terjadi pada kondisi seperti ini? apa yang menyebabkan mereka mau berpikir untuk memanfaatkan kondisi sepeti ini. Jawabannya bisa dijadikan kunci, bahwasanya mereka orang-orang dipinggiran bisa berpikir dengan baik jika apa yang dipikirkan (input) menghasilkan sesuatu yang mereka inginkan (output). Mengapa hanya soal keuanga saja yang dapat mengubah pemikiran mereka. Yang tampak sekarang dari mayoritas masyarakat disini adalah pemikiran bagus penampilan kurang, atau mungkin dalam bahasa kasarnya, pemikiran kota, penampilan masih kampung. Tidak berimbang.


Next Part, I will try to explain with English, because i cant take writing class, just Grammar for Writing, so I will do it here, to improve my writing skills. if you want to know, I just take 3 Classes, the another two is Speaking for IELTS and Listening for IELTS. Hope you understand, what I’m going to write in the next part. see ya J


WELCOME TO PARE!!!



Dekat pintu masuk Pare, Udah ada yang beginian, so bisa santai laa


Mayoritas student di pare menggunakan sepeda, ga ada angkot! usaha sendiri biar kurus broo


Tuh liat kan, sekeliling itu isinya toko, dan dijamin hampir semua jenis toko ada, tinggal nanya ke salah satu warga lokal, dan semuanya tahu dimana keberadaan toko yang anda cari.


teman sekamar selama 2 minggu ke depan! hari pertama kedua dah gokil, hari ketiga udah full english zone, pasti banyak moment of silent nya wkwkwkwk


Komentar

  1. So sorry darling aku tak sempat mencarikan kegiatan yang di luar Jawa dan lebih menantang. Hahaha. But read your story make me envy! Go rawrk them (problem and all the bad) to become a joke and laugh it hard!

    BalasHapus

Posting Komentar